>

INFO BLOG :

09 Juli 2012

RAHASIA SEDEKAH : Ibu Janda Yang Bersedekah Rp. 1 Juta


RAHASIA SEDEKAH : Ibu Janda Yang Bersedekah Rp. 1 Juta
Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.

Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.

Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.

Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya.

Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.

Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.

Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.

Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.

"Bu..., tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat."

Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, "Oalah... Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya."

Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.

Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.

Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata "Subhanallah!" berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.

Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,

"Terima kasih ya Nak... Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin... Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak... Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!"

Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, "Sama-sama bu... Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin...."

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah.

Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. Walillahil Hamd!

( Oleh : Bobby Herwibowo )

6 Pesan Masuk:

Juhendy mengatakan...

Alhamdulillah y bu itu rizki yg g d sangka2 mungkin Alloh telah lapang kan hati anak2 ibu sehingga ibu bisa naik haji,saya juga pernah mengalami hal semacam itu bu saya berada dalam keluargs yng miskin,anak ku merengk pengen jajan,istri ku ngomel2 terus ga ada masukan sedang kan saya kerja serabutan (kuli bangunan),di saku saya emang ada duit cuman 2000 rp sengaja saya g kasih anak tuk jajan,waktu itu hari jum'at,Alloh g bakalan ingkar janjinya,saya percaya tentang kisah,orang yng brsedekah,1 di ganti Alloh 10 itu janji Alloh,lalu saya masukan uang sy kedalam keropak mesjid,pas pulang dari masjid Alhamdulillah Alloh ngasih aku dengan jumlah yng cukup buat anak dan istriki 2000 jadi 200.000 rb sangat sangat bersyukur atas jalan sedekah,mudah mudahan banyak orang yg mengamal kan sedekah terhadap apa yng kurang dia lihat dan kurang dia dengar slamat y bu ats nikmat yng d berikan Alloh pada ibu

fuadherbal mengatakan...

bagus memberi motivasi dan bukti

Mr Use mengatakan...

Ketika ayah saya meninggal saya tidak mengambil sawah warisan dari beliau dengan niat hasilnya buat bantu ibu yg sudah tua dan adik yg ekonominya pas-pasan, Setelah 6 thn berjalan kok tidak ada perubahan apa-apa pada ekonomi saya malah sedikit agak menurun sehingga saya harus mengambil kembali sawah warisan tsb. Apakah ada yg bisa membantu menjawabnya...????

Anonim mengatakan...

Thank you, I've just been searching for information approximately this subject for a long time and yours is the best I have found out so far. But, what in regards to the bottom line? Are you certain concerning the source?

My web-site: http://www.grindmattsehmichajordanbofu2.com

Agus Triyono mengatakan...

ya, itulah salah satu bukti kuasa ALLAH SWT bahwa tidak akan miskin karna bersedekah, & jangan takut miskin karna bersedekah...?

dadanherbal mengatakan...

Subhanalloh allohu akbar, maha besar Alloh semua yang ada di langit dan dibumi hanya milik-NYA, kalau DIA sudah berkehendak maka terjadilah..

Poskan Komentar

Indahnya Berbagi - ALLAH MAHA KAYA
Pena Sahabat Kisah Keajaiban Sedekah & Cerita Islam

Posting

Posting
SEMUA MILIK ALLAH SWT.

Pesan Via FACEBOOK

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons